Perjuangan Sang Ayah
Suatu ketika, ada seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya,
tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang
mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk, disertai suara
batuk-batuk. Anak perempuan itu bertanya: "Ayah, mengapa wajahmu kian
berkerut-merut dengan badan yang kian hari kian terbungkuk?" Ayahnya
menjawab : "Sebab aku laki-laki." Anak perempuan itu bergumam : "Aku
tidak mengerti." Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak
perempuan itu, terus menepuk-nepuk bahunya sambil mengatakan : "Anakku,
kamu memang belum mengerti tentang laki-laki."
Karena penasaran, anak perempuan itu kemudian menghampiri Ibunya seraya
bertanya: "Ibu, mengapa wajah ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian
hari kian terbungkuk ?
Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada
keluhan dan rasa sakit ?" Ibunya menjawab : "Anakku, seorang laki-laki
yang bertanggung-jawab terhadap keluarga memang akan demikian." Hanya
itu jawaban sang Ibu.
Anak perempuan itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa. Tetapi dia tetap
saja penasaran, mengapa wajah ayahnya yang tadinya tampan dan gagah
menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ? Hingga
pada suatu malam, anak perempuan itu bermimpi. Di dalam impian itu
seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut. Dan kata-kata yang
terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai
jawaban rasa kepenasarannya selama ini.
"Saat Ku-ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin dan tiang
penyangga dari bangunan keluarga, yang akan menahan setiap ujungnya agar
keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi. Ku-ciptakan bahunya yang
kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi keluarganya.
Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang
berasal dari tetes keringat yang halal dan bersih sehingga keluarganya
tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari
anak-anaknya. Demi keluarganya, dia merelakan kulitnya tersengat panas
matahari dan badannya basah kuyup kedinginan tersiram hujan. Yang selalu
dia ingat adalah semua orang menanti kedatangannya dan mengharapkan
hasil dari jerih-payahnya."
"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya
selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa keluh kesah,
walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan kerapkali menerpanya.
Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi
mencintai dan mengasihi keluarganya didalam kondisi apapun juga,
walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.
Ku-berikan kerutan di wajahnya agar menjadi bukti, bahwa dia senantiasa
berusaha tenaga dan pikiran untuk mencari cara sehingga keluarganya bisa
hidup dalam keluarga yang sakinah. Ku-jadikan badannya
terbungkuk-bungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang
bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, dia senantiasa berusaha
mencurahkan seluruh tenaganya demi kelangsungan hidup keluarga.
Ku-berikan kepada laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin agar
dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan
yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini
adalah amanah di dunia dan akhirat."
Terbangun anak perempuan itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu
dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia
hampiri bilik ayahnya yang sedang berdzikir. Ketika ayahnya berdiri,
anak perempuan itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.
"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah."
***
Saudaraku, do'akanlah dia dan berbaktilah kepadanya selagi masih hidup
karena Allah memerintahkan kita demikian dan dia memang menjadi jalan
kelangsungan hidup kita hingga sekarang.
Semoga Alloh SWT memberi HIDAYAH pada diri kita.
Ini cerita tentang Muthia, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima
tahun.
Pada suatu sore, Muthia menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket.
Ketika sedang menunggu giliran membayar, Muthia melihat sebentuk kalung
mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak
berwarna pink yang sangat cantik.
Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Muthia sangat ingin memilikinya.
Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum
berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain
yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk
membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu
sangat indah, diberanikannya bertanya. "Ibu, bolehkah Muthia memiliki kalung
ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... "
Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Muthia. Dibaliknya
tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Muthia yang memandangnya dengan
penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung
itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. "Oke ... Muthia, kamu boleh
memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan
karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang
tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"
Muthia mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke
raknya. "Terima kasih..., Ibu"
Muthia sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung
itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung
itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya
dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah,
kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.
Setiap malam sebelum tidur, ayah Muthia membacakan cerita pengantar tidur.
Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya
"Muthia..., Muthia sayang ngga sama Ayah ?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Muthia sayang Ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."
"Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari
nenek...! Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !". Ayah mencium pipi Muthia sebelum
keluar dari kamar Muthia.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah
bertanya lagi, "Muthia..., Muthia sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Muthia sayang sekali pada Ayah?".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.."
kata Muthia seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya
bermain.
Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Muthia sedang duduk
di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Muthia rupanya sedang menangis
diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan.
"Ada apa Muthia, kenapa Muthia ?"
Tanpa berucap sepatah pun, Muthia membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar
cantik kalung mutiara kesayangannya.
"Kalau Ayah mau... ambillah kalung Muthia."
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Muthia.
Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang
satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih... sama cantiknya dengan
kalung yang sangat disayangi Muthia.
"Muthia... ini untuk Muthia. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi
kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau."
Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung
mutiara imitasi Muthia.
Demikian pula halnya dengan Alloh SWT terkadang Dia meminta sesuatu dari
kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik.
Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Muthia.
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya
tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas,
karena kita yakin tidak akan Alloh SWT mengambil sesuatu dari kita jika
tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Semoga bermanfaat, amin.
Sakaratul Maut, Siapkah kita untuk menghadapinya ?
"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).
Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.
"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).
Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.
"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,
"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.
Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.
Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.
"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.
"Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.
"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".
Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.
"Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s.
"Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.
"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.
"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.
"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s
"Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail.
"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.
"Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail.
Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.
Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.
"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail.
"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.
"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.
MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?
Siapkah kita untuk menghadapinya ?
Pohon apel dan anak kecil
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki
yang senang ber-main? di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia
senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur?an di keteduhan rindang daun?nya. Anak lelaki
itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula,
pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi ber-main? dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu
hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke
sini ber-main? lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang ber-main? dengan pohon lagi." jawab
anak lelaki itu.
"Aku ingin sekali memiliki mainan,
tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang...
tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau
bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel
yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun,
setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.
Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat
senang melihatnya datang. "Ayo ber-main? denganku lagi."
kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus
bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk
tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang
semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa
bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak
pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon
apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo ber-main?
lagi denganku." kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin
hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar.
Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang
tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan ber-senang?lah."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan
membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar
dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi
setelah ber-tahun? kemudian.
"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah
tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk
mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat."
kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu."
jawab anak lelaki itu.
"Aku benar? tak memiliki apa? lagi yang bisa aku berikan padamu.
Yang tersisa hanyalah akar?ku yang sudah tua dan sekarat ini."
Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa? lagi sekarang." kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku
sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar? pohon tua adalah tempat
terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring
di pelukan akar?ku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar? pohon. Pohon apel itu
sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang
tua kita. Ketika kita muda, kita senang ber-main? dengan ayah dan
ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan
hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk
memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita
bahagia.
“Ibn Mas’ud r.a. berkata: Ya Rasulullah amal apakah yang lebih disukai oeh Allah ta’la? Bersabda Nabi: Sembahyang tepat pada waktunya. Saya bertanya: Kemudian apakah? Jawab Nabi: Taat bakti pada kedua orang ayah bunda. Saya bertanya: Kemudian apakah? Jawan Nabi: Berjuang jihad fisabilillah (untuk menegakkan agama Allah).” (Buchary,Muslim)
Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya
suasananya lebih indah sedikit
Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau cintai, matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang
yang
kau sukai, engkau hanya tersenyum saja
Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang
terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja
Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan
rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga.
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari
orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam
jarak waktu yang cukup lama.
"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta... ada
perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang
secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah.
Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk
orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi
kebahagiaan orang yang kamu sayangi.
Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin
melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan."
`Hanyalah aku diutus (oleh Alloh) untuk menyempurnakan keluhuran akhlak". (HR. Ahmad).
Diantara kelebihan agama kita, agama Islam, dan keistimewaan syariat kita yang mulia, ialah kesempurnaan dan kelengkapan yang dibawanya. Tidak ada satupun aspek dari semua aspek kehidupan ini, melainkan telah diatur dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Diantara aspek utama yang diberi perhatian khusus oleh Islam adalah akhlak dan lebih khusus akhlaq muslimah.
Bagaimana Islam mengatur masalah akhlaq, sehingga dengan akhlaq yang baik menjadi penyempurna keimanan seseorang. Dan akhlaq menjadi perhiasan yang indah bagi seorang muslim. Sehingga tidak ada lagi keluhan-keluhan yang
dilontarkan, seperti ucapan:
- "Wah, sudah ngerti agama, kok...malah kurang ajar sama orang tua".
- "Dia sih agamanya bagus, tapi ... pacaran jalan terus,"
- dan ucapan-ucapan yang lainnya.
Tentunya kita berharap tidak termasuk bagian dari mereka. Lalu pertanyaan kita, apa saja yang mesti kita ketahui ilmunya tentang akhlak?, seberapa besar sebenarnya keutamaan akhlak bagi seorang muslim?.
KEUTAMAAN AKHLAK
Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh Rosululloh shollallahu'alaihi wasallam :
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya." (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Dishohihkan Asy-syaikh Albani).
Abu Hurairah radhiallahu'anhu mengabarkan bahwa suatu saat Rosululloh shallallahu'alaihi wassalam pernah ditanyakan tentang kriteria orang yang paling banyak masuk surga. Beliau shollallahu alaihi washalam menjawab:
"Taqwa kepada Alloh dan akhlak yang baik".
(Hadits Shohih riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad).
Dari Jabir radhiallahu'anhu berkata: Rosululloh shollallahu'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang terdekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya".
(HR. Tirmidzi dengan sanad hasan).
Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa akhlak yang baik memiliki keutamaan yang tinggi. Dan ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, melainkan menurut timbangan syariat.
Lalu bagaimanakah syariat Islam memberikan tuntutan tentang akhlak bagi muslimah? Pembahasan kali ini akan memaparkan beberapa akhlak muslimah yang semuanya telah diatur oleh Islam dengan tuntutan yang sangat indah, penuh kelembutan, kasih sayang dan keadilan.
AKHLAK MUSLIMAH TERHADAP ROBB-NYA
1. Menjadikan Alloh `Azza wa jalla sebagai Ilah yang Haq.
Inilah puncak dari akhlak seorang hamba terhadap Penciptanya yaitu meyakini sepenuhnya bahwa Alloh Azza wa Jalla adalah satu-satunya ilah yang berhak untuk diibadahi, ditaati, dan dicintai.
2. Mengikhlaskan ibadah kepada Alloh dan mencintai Alloh.
3. Ridho terhadap takdir Alloh.
Wajib bagi kita untuk meyakini atau mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi baik yang lalu atau yang akan datang itu semua atas kehendak Alloh. Seperti yang Alloh firmankan dalam: Q. S Al-Hajj (22): 70
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
AKHLAK MUSLIMAH TERHADAP DIRINYA, SESAMA DAN LAWAN JENIS
1. Dalam hal berpakaian
Wanita dalam pandangan Islam bagai mutiara yang dilindungi. Islam menjamin bagi wanita kehormatan insani, sesuai dengan tabiat kewanitaannya. Oleh karena itu Islam memberikan salah satu syariat untuk memelihara kehormatannya, yaitu:
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S Al-Ahzab (33): 59)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
(Q.S An-Nuur (24): 31)
Setiap muslimah wajib menutup auratnya, tidak boleh memakai pakaian tipis, sempit membentuk badan, tidak menyerupai (Bertasyabuh) dengan kaum laki-laki, menjauhkan diri dari tabarruj dan memakai wewangian pengharum tubuh dikala keluar rumah.
2. Dalam masalah lisan.
Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata bahwa Nabi sholallahu'alaihi wassalam bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam". (HR. Bukhori dan Muslim, Hadits Shohih).
"Siapa yang dipelihara Alloh dari kejelekan diantara janggutnya (yakni lisan) dan diantara kakinya (yakni kemaluan), pasti masuk surga".
(HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan, dishohihkan Ibnu Hiban dan Al-Albani).
3. Dalam masalah pandangan
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
(Q.S. An-Nuur (24):31)
4. Dalam masalah pendengaran
Maha Suci Alloh yang telah menggambarkan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya:
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.
(Q.S. Al-Qoshosh (28): 55)
5. Dalam masalah menjaga tangan dan kaki
Tahan tangan dan kaki kita dari hal yang maksiat. Tahan pula dari menyentuh atau disentuh laki-laki bukan mahrom, karena yang demikian telah menyelamatkan diri kita dari api neraka.
6. Tidak kholwat dan ikhtilat
AKHLAK TERHADAP ORANG TUA
Q.S. Al-Ankabut (29):8
Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapak-nya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Q.S. Al-Baqarah (2): 83
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): "Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
Q.S. Al-Isro (17): 23-25
Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. 17:23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:"Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. 17:24) Rabbmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (QS. 17:25)
Alloh memberikan tuntutan bagaimana seorang muslimah harus berakhlak terhadap orang tuanya.
AKHLAK MUSLIMAH TERHADAP SUAMI
"Maha Suci Alloh yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang telah mereka ketahui". (Q.S. Yasin: 36)
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta'atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. An Nisaa (4) : 34)
Sebuah keluarga akan mawaddah warrohmah jika akhlak diantara suami istri adalah akhlak yang baik, dan bagi muslimah inilah salah satu cerminan dari wanita sholihah.
Rosululloh shollallahu'alaihi wassalam bersabda mengenai ciri-ciri istri yang sholihah:
“Apabila diperintahkan ia taat, apabila dipandang menyenangkan dan apabila suami tidak di rumah ia menjaga”
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya,
maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)".
(Hadist Riwayat Tabrani)
100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman
1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
2. Sabar apabila mendapat kesulitan;
3. Tawakal apabila mempunyai rencana/ program;
4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
8. Jangan usil dengan kekayaan orang;
9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11. Jangan tamak/ pelit kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti perasaan ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
46. Perbanyaklah & menyambung silaturahmi;
47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
48. Bicaralah secukupnya, jangan berbicara dengan berteriak;
49. Beristri/ bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
57. Cintailah keluarga Nabi Muhammad SAW;
58. Jangan terlalu banyak hutang ataupun royal;
59. Jangan terlampau mudah berjanji;
60. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh;
63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi, balaslah dengan kebaikan;
67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian ataupun beda pendapat;
68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan;
70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan;
71. Jangan melukai hati orang lain;
72. Jangan membiasakan berkata dusta;
73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
77. Jangan membuka aib orang lain ataupun berburuk sangka;
78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara;
83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
84. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
86. Hargai prestasi dan pemberian orang;
87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi terganggu;
91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan
orang lain terhina;
94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
100.Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;
"Anda ingin beramal shaleh...? Tolong kirimkan kepada rekan-rekan muslim lainnya yang anda kenal"
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud : "Ada 4 di pandang sebagai ibu", yaitu :
1. Ibu dari segala OBAT adalah SEDIKIT MAKAN.
2. Ibu dari segala ADAB adalah SEDIKIT BERCAKAP.
3. Ibu dari segala IBADAT adalah TAKUT BUAT DOSA.
4. Ibu dari segala CITA CITA adalah SABAR
Berpesan-pesanlah kepada kebenaran & Kesabaran. Beberapa kata renungan dari Qur'an :
Orang yang tidak melakukan sholat pada :
Subuh : Dijauhkan cahaya muka yang bersinar
Dzuhur : Tidak diberikan berkah dalam rezekinya
Ashar : Dijauhkan dari kesehatan/kekuatan
Maghrib : Tidak diberi santunan oleh anak-anaknya.
Isha' : Dijauhkan kedamaian dalam tidurnya
4 PERKARA SEBELUM TIDUR
( Tafsir Haqqi )
Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : "Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :
1. Sebelum khatam Al Qur'an,
2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3. Sebelum para muslim meridloi kamu,
4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh....
"Bertanya Aisyah : "Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?"
Rasul tersenyum dan bersabda :
a. "Jika engkautidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur'an.
b. Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat.
c. Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.
d. Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh"
